Guru Besar UI: Pemilu Kita Masih Butuh Perbaikan 

Home / Pendidikan / Guru Besar UI: Pemilu Kita Masih Butuh Perbaikan 
Guru Besar UI: Pemilu Kita Masih Butuh Perbaikan  Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Prof.Dr.Dra. Valina Singka Subekti, M.Si saat sesi Konfrensi pers. (Edi Junaidi ds/TIMES Indonesia)

TIMESBLITAR, JAKARTAGuru Besar UI (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Dra. Valina Singka Subekti, M.Si menilai terbatasnya akses pemilih pada para caleg di Indonesia sangat menyulitkan pemilih untuk mengenal rekam jejak dan visi/misi program caleg masing-masing.

Menurutnya, ketika datang ke setiap TPS pada hari H, pemilih tidak mengenal nama-nama caleg yang tertulis dalam surat suara. Sehingga berakibat pada pemilih yang kemudian bersikap asal-asalan mencoblos. 

Bahkan tidak hanya itu, akibat keterbatasan akses tersebut, para petugas TPS juga diakibatkan sangat kewalahan dalam melaksanakan tugas pemungutan dan penghitungan suara terutama pada pemilu serentak 2019, lalu. Sehingga ratusan petugas mengalami sakit dan wafat.

Universitas-Indonesia-b.jpg

"Kerumitan pemilu serentak lalu, antara lain disumbangkan oleh aspek teknis penghitungan suara dengan mengadopsi E-Counting atau E-Recap. Oleh karenanya bisa menjadi solusi strategis untuk digunakan dalam pilkada maupun pemilu 24," tutur Prof Valina kepada media dalam sesi Konfrensi Pers di Aroma Sedap Resto Jl. Teuku Cik Ditiro No.43 Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/10/2019).

Selanjutnya, dia menambahkan bahwa sebenarnya dampak negatif lain dari sistem pemilu saat ini adalah dengan hadirnya politik yang berbiaya tinggi (high cost politics) dan menguatnya politik uang (money politics).

Menurutnya, sistem pemilu langsung dengan model kompetisi terbuka yang pada satu sisi dinilai demokratis, namun pada sisi lain menutup peluang kader partai dan memberi kesempatan masuknya kader 'instan' dengan modal sosial lebih kuat seperti dana besar dan popularitas.

Universitas-Indonesia-c.jpg

"Politik transaksional menjadi fenomena terkini di negri kita. Tidak hanya mewarnai proses rekrutmen para calon legislatif maupun pilkada tetapi juga telah memunculkan elektoral missconduct dan electoral fraud dalam proses tahapan pemilu khususnya penghitungan suara. Praktek money politics, vote buying dan vote trading semakin meluas dan memiliki daya rusak tinggi terhadap voters (pemilih) dan kualitas pemilu kita," pungkas Prof.Dr.Dra. Valina Singka Subekti, M.Si, Guru Besar UI.(*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com