Menakar Kampus Merdeka ala Nadiem

Home / Kopi TIMES / Menakar Kampus Merdeka ala Nadiem
Menakar Kampus Merdeka ala Nadiem Maya indrawati, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM, angkatan 2018

TIMESBLITAR, JAKARTA – Pasca mendengar dan membaca pidato Mas Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, soal kebijakan “kampus merdeka” saya membayangkan sosok aktor India Amir Khan sebagai Rancho Shamaldas Chanchad dalam film yang berjudul 3 idiot. Dalam film yang disutradari oleh Rajkumar Hirani tersebut menampilkan perjuangan Amir Khan bersama dua orang temannya melawan kediktatoran kampus.

Kediktatoran kampus dalam film tersebut ditampilkan melalui sosok aktor Boman Irani sebagi rektor Dr Viru Sahastrabudhe atau Dr ViruS yang perfeksionis kolot, menggangap kegagalan seorang mahasiswa adalah sesuatu yang wajar dan hanya mahasiswa terbaiklah yang berhak dihargai.

Bagi rektor Dr ViruS, hidup itu adalah perlombaan jika lambat maka akan digilas. Mahasiswa yang tidak mampu bersaing secara alamiah akan kalah dan tak perlu dihiraukan.

Film yang dikemas dengan genre komedi dan drama ini seolah mengkritisi praktik nyata dari dunia perkuliahan itu sendiri. Sistem perkuliahan yang selama ini berlaku dengan memaksa mahasiswa mendapat nilai bagus, lulus lalu bekerja dan kaya tanpa pernah peduli dengan potensi lain yang ada di dalam diri mereka. Konsep ini memang menguntungkan untuk mereka yang kompetitif dan pintar. Tapi bagaimana yang sebaliknya atau bahkan mereka yang cerdas tapi tak tertangani dengan sistem pendidikan yang benar?

Kampus Merdeka Ala Mas Nadiem

Berangkat dari potret pendidikan yang digambarkan dalam film 3 idiot diatas pada bagian ini penulis mencoba untuk mengurai konsep kampus merdeka yang diwacanakan oleh Mas Nadiem dalam konteksnya di Indonesia. apakah gagasan tersebut benar untuk membentuk potensi diri mahasiswa atau hanya sekedar untuk modal kapitalisasi industri?

Jika menilik pada pidato mas Nadiem soal kampus merdeka, maka penulis dapat menguraikan beberapa persoalan dasar dari gagasan tersebut yang ingin dicapai oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan pada masa yang akan datang. Pada point pertama, kampus memiliki otonomi untuk membuka program study baru dengan syarat perguruan tinggi baik swasta maupun negeri (PTS dan PTN) harus terakreditasi A dan B.

Dalam konteks ini, Mas Nadiem ingin mempermudah PTS dan PTN untuk membuka program studi baru yang pada sebelumnya terbatasi oleh aturan yang mewajibkan kampus harus berbadan hukum serta syarat tambahan lainnya yakni menjalin kerjasama dengan perusahaan, organisasi nirlaba, intitusi multilateral atau universitas top 100 dan bukan dibidang kesehatan dan pendidikan.

Kedua,  proses akreditas bersifat otomatis yakni tanpa menunggu proses selama jangka waktu lima tahun lamanya. Ketiga, mempermudah PTN Badan Layanan Umum (BLU) untuk menjadi PTN berbadan hukum. Hal ini, untuk mempercepat proses badan hukum oleh PTN yang selama ini juga terbatasi hanya pada yang PT berakreditasi A semata. Dan keempat, yakni berkaitan dengan Sistem Kredit Semester (SKS). SKS yang selama ini hanya terpaku pada jam belajar di kelas dirubah menjadi jam kegiatan.

Dengan kata lain, Mas Nadiem menginginkan dengan sistem ini mahasiwa berhak mengambil mata kuliah diluar program studi sebanyak dua semester atau setara 40 SKS dan bentuknya adalah jam kegiatan maka mahasiswa didrong untuk melakukan kegiatan diluar kelas baik dalam bentuk magang, pertukaran pelajarm wirausaha, riset, studi indenpenden maupun kegiatan menjar didaerah terpencil.

Kampus Merdeka: Membentuk Potensi Diri atau Kapitalisasi Industri

Jika ditilik dari gagasan kampus merdeka ala mas nadiem diatas maka penulis dapat menguraikan beberapa persoalan yang menjadi bagian penting dari potret permasalahan perguruan tinggi di Indoensia selama ini yang sekiranya menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan kebijakan kampus merdeka oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan.

Potret perguruan tinggi di Indonesia pasca era refromasi mengalami pergeseran yang begitu signifikan. Hal ini terlihat jelas dengan munculnya berbagai aktivitas kampus ditengah ruang publik untuk melakukan berbagai perubahan sesuai dengan tri dharma perguruan tingga yang diejawantahkan dalam visi dan misi kampus tersebut.

Kampus pun pasca era reformasi memiliki kebebasan untuk menjalin kerjasama dengan berbagai intansi diluar dari pemerintah, baik dengan perusahaan nasional maupun multinasional untuk kebutuhan magang mahasiswa dan pembangunan infrasturktur kampus, pertukaran pelajar, riset dan lain sebagainya.

Gagasan kampus merdeka ala mas nadiem bagi penulis juga memiliki tujuan moral untuk melanjutkan cita-cita reformasi dalam dunia pendidikan. Penulis mengapresiasi gagsan kampus merdeka yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk memilih potensi diri apa yang dinginkannya sebab potensi diri seseorang tidak hanya semata terbentuk dalam ruang kelas dengan mendengarkan ceramah dosen melainkan juga terbentuk atas hasil interaksi sosial yang dilakukan oleh mahasiswa diruang publik.

Akan tetapi perlu kemudian dicatat bahwa gagasan kampus merdeka diatas juga membukan ruang dan peluang memudakan kampus untuk melakukan berbagai komersialisasi dalam aspek pendidikan. Hal ini terlihat jelas dari poin-poin yang tertuang dalam gagasan kampus merdeka diatas.

Berbagai kemudahan yang tertuang diatas mulai dari otonomi kampus dan urusan berbadan hukum akan berdampak pada mahalnya biaya pendidikan diberbagai kampus, setiap kegiatan mahasiswa akan menuntut kampus untuk melakukan upaya komersialisasi. Sehingga tidak heran jika anggapan bahwa menyekuliahi anak sama hal dengan berjudi dengan masa depan dan tidak sesuai dengan tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Komersialisasi pendidikan yang dilakukan oleh kampus akan berakibat pada pembentukan SDM unggul. SDM unggul tidak lagi berpatokan pada tingkat kecerdasan melainkan tingkat kepatuhan. Kepatuhan kepada sistem inilah yang kemudian akan membawa arah pembentukan SDM sebagai mesin kapitalisasi industri yakni kuliah lulus cari kerja bukan untuk kuliah lulus menciptakan lapangan kerja.

Oleh sebab itu, gagasan kampus merdeka yang memiliki tujuan moral melanjutkan cita-cita reformasi seharusnya juga memperhatikan potensi diri seorang mahasiswa bukan dilihat sejauh apa kebebasan kampus melakukan komersialisasi. Melainkan sejauh apa kampus mampu menjadi tempat pembinaan karakter diri soerang mahasiswa yang tentunya sesuai dengan gagasan merdeka atas sistem komersialisasi kampus itu sendiri. (*)

***

*) Penulis, Maya indrawati, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM, angkatan 2018

-----

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

 

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com