Covid-19 di Tengah Rivalitas Amerika Serikat dan China

Home / Kopi TIMES / Covid-19 di Tengah Rivalitas Amerika Serikat dan China
Covid-19 di Tengah Rivalitas Amerika Serikat dan China Didik P Wicaksono.

TIMESBLITAR, JAKARTA – Opini berjudul “Sementara Amerika Serikat (AS) ke Angkasa, China Sibuk di Bumi” yang terbit di media ini (22/12/2019-14:57), saya menceritakan AS membentuk matra angkatan perang luar angkasa (space force) dan kemudian mengilustrasikan penduduk bumi bersatu dibawah kepemimpinan AS menghadapi agresi makhluk luar angkasa (alien).

Menceritakan pula tentang adanya pengkhianatan dan persekongkolan penduduk bumi dengan alien. “Jika ada ada manusia (penghuni bumi) bekerja sama atau bersekutu dengan makhluk alien –penghuni planet lain– maka manusia yang bersekutu dengan makhluk alien itu, pantas disebut sebagai pengkhianat. Sebaliknya, tentu saja bagi alien –sangat berterima kasih– dan akan menyebut mereka (para persekongkol) sebagai pahlawan”

Faktanya, tidak ada makhluk asing yang akan mencaplok planet bumi. Yang ada, kini penduduk bumi di serang pendemi Covid-19.
Motivasi AS membentuk angkatan luar angkasa sesungguhnya untuk memenuhi ego superpowernya. AS ingin terus menunjukkan dominasinya di dunia Internasional.

Sasarannya adalah secara politik mengendalikan negara-negara yang ada di dunia ini. Sekaligus –mencari peluang– mengeksplorasi SDA (Sumber Daya Alam) yang sebesar-besarnya. PT Freeport Indonesia (PTFI) pada awalnya adalah wujud strategi AS dalam pengelolaan SDA di Indonesia sebagai sumber pendapatan negaranya. mereka.

Sementara China terus berusaha menggeser dominasi AS. Menggagas OBOR (One Belt and One Road) dengan menguasai jalur darat dan laut. Proyek pembangunan China dijalankan di lebih dari 60 negara.

Dari Obor berganti menjadi Belt and Road Initiative (BRI) dan Silk Road Economic Belt atau Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (SREB) berbasis daratan dan Jalur Sutra Maritim (MSR) lintas samudra.

China terus melakukan investasi infrastruktur, material konstruksi, kereta api, jalan raya, mobil, real estate, besi dan baja ke banyak negara. Tentu saja investasi dengan diiringi pengiriman tenaga kerja asal China.   

Rivalitas antara AS dengan China terjadi di segala bidang. Bidang Teknologi dan informasi, perdagangan, investasi, militer dll yang kepentingannya tumpang tindih dan saling memberi pengaruh pada dunia Internasional.

Hubungan diplomatik mereka (AS vs China) pun pasang surut. Ketegangan dan perbedaan kepentingan seringkali muncul. Kekuatan militer saling dipamerkan (dipersiapkan) menyongsong konflik-konflik yang lebih serius di masa datang.  

Bisakah penduduk dunia bersatu, berjuang bersama-sama melawannya Covid-19?  

AS lebih senang menyebut virus Wuhan atau virus China. Penyebab Covid-19 (virus China) menyebar ke seluruh dunia, karena China tidak trasparan dan gagal dalam penanganan awal. Sebaliknya, China menyebarkan rumor bahwa pandemi tersebut disebabkan oleh program militer AS.  

Ketika AS akan menutup masuknya para wisatawan dari berbagai negara (Uni Eropa) termasuk Italia, justru China sukses mengirim tim medis, peralatan kesehatan dan obat-obatan ke Italia dan negara-negara lainnya dalam penanganan Covid-19.

Sementara pengiriman fasilitas medis angkatan udara AS ke Italia kalah cepat dengan China. AS sendiri lebih disibukan menangani krisis Covid-19 yang sudah menyebar di New York.  

Setelah China mengirim alat pelindung diri (APD) –yang ada tulisan made in Indonesia itu– ke Indonesia dan beberapa negara yang membutuhkan, seolah AS tidak ingin kehilangan pengaruhnya di Indonesia. Kepada pemerintah Indonesia, khabarnya AS memberi bantuan senilai USD2 Juta.

Bantuan itu merupakan bagian dari investasi kesehatan dan kemanusiaan kepada negara-negara yang membutuhkan. Melalui kementerian luar negeri dan United States Agency for Internasional (USAID) atau Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat, mengelontorkan dana hampir USD 274 juta. Sekaligus mengklaim kepemimpinan AS dalam penanganan kesehatan dunia menghadapi pandemi Covid-19.

AS dan China memanfaatkan momen merebaknya wabah Covid-19 dengan kejelasan rencana mereka memperngaruhi dunia Internasional. Keduanya sangat progressif. Masing-masing saling mendahului. Bersaing, satu sama lainnya tidak mau kalah, dalam segala hal.

Indonesia sendiri –bukan hanya soal perang melawan Covid-19– dalam banyak hal, tidak bisa lepas dari tarik menarik pengaruh polarisasi dua kekuatan besar AS dan China. Sebaliknya AS dan China sangat berkepentingan dengan Indonesia. Indonesia adalah negara yang amat strategis bagi mereka.

Pada suatu periode –diakhir era orde lama– Indonesia dekat dengan China, padahal diawal kemerdekaan anti China. Pada periode orde baru, China ditinggalkan. Hubungan diplomatik dibekukan. Selanjutnya, di era reformasi dan hingga sekarang, Indonesia lebih mesra ke China dibandingkan ke AS.    

Berdasarkan konstitusi Indonesia (Pembukaan UUD 45, aline ke 4) adalah tanggung jawab negara dalam hal melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Itulah sebabnya, memerangai Covid-19, bagi Indonesia merupakan momentum dalam hal menunjukkan jati diri bangsa dan negara Indonesia. Indonesia adalah negara besar. Politik internasional Indonesia adalah politik bebas aktif, yang berarti memaksimalkan kemandirian. Berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).

Warisan Presiden Ir. Soekarno masih relevan. Mewujudkan perekonomian berdikari dengan kompromi, modal asing boleh masuk dengan sharing 60% untuk Indonesia, 40% untuk asing dan setelah 20 tahun kemudian, menjadi milik Indonesia sepenuhnya.

Ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan berkarakter. Tanpa adanya kepemimpinan yang kuat dan berkarakter, bangsa Indonesia akan terus-terusan menjadi “mainan” negara asing. Neokolonialisme justru semakin kuat mencengkeram negara Indonesia.

Pengalaman di era Presiden Ir. Soekarno, mewujudkan berdikari itu mendapat tantangan dari dalam negeri sendiri. Yaitu pembusukan dengan banyaknya elit politik yang lebih berpihak atau membela kepentingan asing. Seperti yang terjadi pada saat ini, ketika warga Indonesia harus berdiam diri di rumah,  warga asing –yang berpotensi membawa Covid-19– masih bisa masuk ke Indonesia. (*)

 

*) Penulis Didik P Wicaksono.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

____________
**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com