Soal Penerapan CHS di Destinasi Wisata, Begini Hasil Survei MarkPlus

Home / Ekonomi / Soal Penerapan CHS di Destinasi Wisata, Begini Hasil Survei MarkPlus
Soal Penerapan CHS di Destinasi Wisata, Begini Hasil Survei MarkPlus Ilustrasi gerakan bersih dan sehat untuk menjaga kesehatan diri (Foto : Freepik)
Fokus Berita

TIMESBLITAR, SURABAYAMarkPlus, Inc. kembali menggelar webinar MarkPlus Government Roundtable episode ketujuh via aplikasi Zoom yang membahas mengenai program clean, health, dan safety (CHS) di destinasi wisata pasca pandemi.

Webinar ini diawali dengan pemaparan hasil survei cepat yang dilakukan pada 80 responden selama satu minggu terakhir.

Survei dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman wisatawan terkait aturan CHS dan pengaruhnya terhadap minat kunjungan, jenis media yang digunakan oleh pengelola untuk menyebarkan informasi CHS, serta kesediaan masyarakat dalam menerapkan dan menyebarkan protokol tersebut.

Sebesar 37,5 persen responden mengaku pernah mendengar namun masih belum paham dengan penerapan program tersebut. 31,3 persen lainnya sering mendengar dan cukup paham yang didominasi oleh responden berusia di atas 35 tahun. Sedangkan 37,5 persen responden yang berusia di bawah 24 tahun belum pernah mendengar program dan penerapan CHS.

Sosialisasi kepada masyarakat mengenai program CHS ketika mengunjungi destinasi masih butuh usaha ekstra terutama kepada generasi alpha atau yang berusia di bawah 24 tahun. “Kelompok umur ini adalah umur yang paling aktif untuk berpergian serta berpotensi menjadi orang tanpa gejala (OTG) yang berpotensi menyebarkan virus COVID-19,” ujar Executive Director MarkPlus Tourism Mochamad Nalendra Pradono dalam MarkPlus Government Roundtable, Senin (6/7/2020) via daring.

Penerapan protokol CHS di suatu destinasi wisata juga dinilai oleh 46,3 persen responden mempengaruhi minat kunjungan. Suatu destinasi harus memiliki protokol CHS yang sudah siap diterapkan sebelum pembukaan kembali. 90 persen juga merasa tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai CHS di sebuah destinasi.

Hal ini menjadi catatan penting bagi pengelola agar mengemas informasi protokol tersebut semenarik mungkin.

Informasi mengenai CHS di suatu destinasi didapatkan oleh 43,8 persen responden dari televisi. Sedangkan kelompok responden usia di bawah 24 tahun mendapat informasi lebih banyak melalui Instagram.

Perlu pendekatan berbeda yang dilakukan oleh pengelola destinasi dalam menyebarkan informasi sesuai dengan target dan preferensi media khususnya bagi generasi alpha. Bahkan 50 persen responden dari generasi tersebut menilai kampanye CHS kurang menarik.

“Kelompok usia di bawah 24 tahun ini yang perlu diperhatikan dan diedukasi terkait pemahaman CHS sehingga model kampanye harus disesuaikan dengan generasi tersebut,” lanjutnya.

Sebanyak 88,8 persen responden mengaku bersedia mengikuti aturan CHS yang diterapkan pengelola destinasi dan 93,8 persen bersedia membantu menyebarkannya. Namun, 15,3 persen responden yang berasal  dari luar Jabodetabek memilih kurang bersedia mengikuti aturan dan 12,5 persen responden generasi alpha tidak bersedia membantu menyebarkan informasi tersebut.

“Sosialisasi mengenai CHS perlu terus diperkuat karena pengendalian penyebaran Covid-19 sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat,” tutup Executive Director MarkPlus Tourism ini. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com