Inovatif, Warga Blitar Membuat Pot Bunga dari Sampah Popok Bayi

Home / Berita / Warga Blitar Membuat Pot Bunga dari Sampah Popok Bayi, Ini Prosesnya 
Warga Blitar Membuat Pot Bunga dari Sampah Popok Bayi, Ini Prosesnya  Redam menunjukkan Pot dan Batako berbahan sampah popok bayi hasil cetakkanya, Senin(6/7/2020). (Foto: Sholeh/TIMES Indonesia)

TIMESBLITAR, BLITAR – Warga Desa Jatinom Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, Redam membuat pot bunga berbahan popok bayi. Hal itu berawal dari keprihatinannya melihat sampah popok bayi menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPSD) desa setempat. 

Sampah-sampah popok bayi itu berasal dari warga. Setelah tiba di TPST, sampah popok bayi itu langsung dipilah. Kemudian ia bersihkan gel pada popok tersebut. 

"Gel ini butuh waktu setahun baru terurai. Kalau popoknya butuh sampai tiga tahun terurai," urainya, Senin (6/7/2020).

Redam menjelaskan, setelah dibersihkan dari gelnya, popok itu langsung dicuci bersih. Tanpa dikeringkan, popok bekas itu langsung dicampur dengan adonan semen lantas dicetak membentuk pot. 

"Saya cari referensi di You tube ternyata ada cara pemanfaatan Popok bayi. Salah satunya bisa dibuat pot tanaman. Lalu saya coba," tambah pria yang sehari hari beraktivitas di TPST itu. 

Redam mengemukakan, Setiap kali ia mengambil sampah ke rumah warga, khususnya ibu-ibu yang memiliki bayi selalu mengingatkan agar tidak membakar popok bayi. Sebab, menurut kepercayaan mereka , kalau popok bekas dibakar bisa mengakibatkan kulit si anak jadi gatal-gatal. 

"Kalau secara ilmiah belum ada buktinya mungkin bisa jadi mitos. Ok, saya bilang ke para ibu tidak akan membakar popok bayi tapi saya jadikan Pot," ujarnya. 

Saat ini Redam belum memproduksi banyak pot tanaman dari sampah popok bayi itu. Ia masih terkendala tenaga dan bahan untuk mencetak.  "Kalau nanti sudah ada uang, mungkin saya belikan cetakan biar lebih mudah. Sementara pakai cetakan pot bekas seadanya," katanya. 

Tidak hanya itu, Redam dibantu tiga temannya juga membuat batako berbahan dasar abu pembakaran sampah di TPST Desa Jatinom. Abu pembakaran sampah itu, menurutnya biasa digunakan untuk pupuk tanah bagi petani sekitar.

"Setiap kali musim jagung dibeli petani. Sekarung Rp 4 ribu," Namun, karena belum masuk musim jagung, akhirnya abu tersebut menggunung di sudut bangunan TPST,"

Batako cetakan Redam terbuat dari campuran abu, semen dan pasir. Hasilnya pun cukup bagus. Tidak kalah jauh dengan cetakan batako pada umumnya. "Perbandingannya lebih banyak abunya. Setelah itu dicampur rata langsung dicetak," jelasnya. 

Redam mengutarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar pun langsung tertarik. DLH langsung ke TPST untuk melihat langsung bentuk dan kualitas batako  cetakan Redam. 

"Ini masih baru sekitar seminggu lalu saya buat batako. Alhamdulillah, DLH mau pesan 200 batako dulu. Hanya untuk sampel kata mereka," tutur Redam, warga Kabupaten Blitar yang sukses membuat pot bunga berbahan popok bayi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com